Perempuan Papua Dalam Beberapa Prespektif Feminis - WatikamKwe

11/06/2016

Perempuan Papua Dalam Beberapa Prespektif Feminis

Judul asli "Gender dan Pembangunan: Pengamatan Perempuan Papua Dalam Beberapa Prespektif Feminis" diposting majalahbeko.blogspot.com, date (09/08/).

Insos, Biak - Foto FB
Perempuan Papua memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam memegang posisi sebagai pengambil kebijakan dalam lembaga pemerintah. Hak perempuan Papua ini belum mencapai jumlah yang memadai dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini disebabkan budaya patriarki (garis keturunan didasarkan pada laki-laki) di Papua masih kuat. Laki-laki lebih banyak mendapatkan kesempatan berseok dibanding perempuan. Hal lain, yaitu pembagian pekerjaan secara seksual, yakni perempuan di lingkungan rumah tangga (domestic sphere) dan laki-laki di luar rumah (public sphere) sebagai pencari nafka utama. Pembagian ini tidak adil bagi perempuan karena selain mengurung perempuan dalam rumah, perempuan ditempatkan pada kedudukan subordinat terhadap laki-laki.

Feminisme Liberal

Prespektif ini dirumuskan Mary Wallstonec Ralf (1759-1799) dalam tulisan “A Vincation of Right of Women” dan John Stuart Mill dalam “The Subjection of Women”, kemudian dalam tulisan “The Feminime Mistyque and the Second Stage”.

Mereka menekan bahwa subordinasi perempuan berakar dalam keterbatasan hukum adat yang menghalangi perempuan masuk lingkungan publik.

Feminisme radikal kemudian menyangkal anggapan tersebut berdasarkan konsep liberal tentang hakikat bahwa manusia memiliki kemampuan yang bisa dibedakan dengan bintang, yaitu moralitas pembuat keputusan yang otonom dan prudeatialitas pemenuhan kebutuhan diri sendiri mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memajukan dirinya.

Feminisme Marxis

Reaksi dalam pemikiran feminisme liberal, feminisme marxis berpendapat ketertinggalan bukan disebabkan tindakan induvindu secara sengaja, tetapi akibat dari struktur sosial, politik, dan ekonomi yang dekat dengan kapitalisme.

Fokus feminisme marxis berkisar pada hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan perempuan dan pranata keluarga dikaitkan dengan sistem kapitalisme. Pekerjaan perempuan dalam mengurus rumah tangga dianggap tidak penting dan dianggap bukan pekerjaan. Ganjalan feminisme marxis, yaitu sekalipun perempuann diberikan kesempatan untuk bekerja di luar rumah, tetapi jika mereka tidak dibebaskan dari tugas rumah tangga, maka itu hanya akan menambah beban kerja mereka. Tokoh-tokohnya antara lain Dalla Costa & Selama James, serta Nancy Holmstrom.

Feminisme Radikal

Propektif ini lebih pada reproduksi dan seksualitas perempuan. Asumsi dasar ini dalam patriarki, oleh kerana itu sistem patriarki tidak saja harus dirombak, tetapi harus dicabut sampai ke akar-akarnya.

Andriena Rich percaya bahwa laki-laki iri dan merasa takut akan kemampuan reproduktif perempuan sebab kehidupan manusia ada di tangan perempuan. Perempuan mampu memelihara kehidupan, tetapi juga mampu merusak hidup. Oleh karena itu, kemampuan ini harus dibatasi.
Tokoh lain, yaitu Kete Millet, lebih pada melihat masalah seksualitas perempuan. Asumsi dasarnya bahwa bahwa seks itu politik. Penguasa laki-laki atas ranah domestik dan publik adalah patriarki, maka untuk pembebasan dari lingkaran ini adalah dengan menghapus kekuasaan laki-laki tersebut.

Feminisme Psikoanalisis

Prospektif ini ditolak dari teori Freud tentang seksualitas sebagai unsur yang krusial dalam pengembangan hubungan gender. Kritikan ini diperoleh dari kaum feminis, seperti Betty Friedan, Kate, Millet, Shulamit Firestone. Mereka tidak setuju teori Freud yang mengatakan bahwa keadaan biologis perempuan dan laki-laki adalah faktor penentu kekuasaan yang patriarki dalam masyarakat dan keluarga.

Kaum feminisme psikoalisis menganalisis tahap Oedipus kompleks yang berasumsi bahwa tahapan psikoseksual tersebut adalah kunci untuk memahami seksualitas dan gender yang timpang, di mana perempuan pada posisi subordinat.

Femenisme Sosialis

Femenisme sosialis muncul karena tidak puas terhadap analisis feminisme marxis yang berdasarkan pemikiran marxis yang buta gender. Asumsi feminisme sosialis adalah hidup dalam masyarakat kapitalis bukan menyebab utama keterbelakangan perempuan. Feminisme radikal telah memberikan analisis gagal mengkartulasi dasar materil bagi ketertindasan perempuan dan struktur kejiwaan.

Faminisme sosialis mengembangkan dua pendekatan, yaitu pertama, teori yang menggabungkan penjelasan tentang patriarki yang non materialis dengan kapitalisme yang meterialis berdasarkan penjelasan kepitalisme yang materialis. Teoti ini menjelaskan patriarki dan kapitalisme adalah bentuk-bentuk sosial hubungan khusus. Teori bereganda ini sangat kompleks. Kedua, teori Unified System Theory, pembagian kerja berdasarkan gender sebagai konsep tunggal. Toeri ini berusaha menganalisis kapitalisme dan patriarki bersama-sama dengan menggunakan satu konsep.
****

Sumber
Kelima perspektif ini dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan perempuan Papua, misalnya bagimana sistem patriarki di Papua masih sangat kuat bagai punutup peluang bagi perempuan Papua untuk terus maju. Kelima prespektif Barat itu lahir berdasarkan waktu yang berbeda-beda dan sesuai dengan sejarah perkembangan masyarakat. Perspektif itu juga tidak serta-merta sesuai dengan kondisi Papua. Apalagi gejolak sejarah perkembangan masyarakat yang demikian jauh dari kumunal primitif ke kapitalis yang membuat perempuan Papua butuh banyak waktu untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan gerakan perempuan yang terjadi di dunia saat ini.

Budaya patriarki dan kekerasan militer yang mendominasi kehidupan perempuan Papua menjadi kekuatan terbesar bagi kebangkitan gerakan perempuan Papua dalam berbagai bidang selama ini. Dominasi laki-laki dalam banyak sektor kehidupan dengan beban kerja ganda akan menjadi landasan kuat bagi perempuan Papua untuk melakukan perubahan waktu-waktu mendatang.

Tanpa bermaksud menyalahi adat-istiadat yang berlaku di tanah Papua, penegakan nilai-nilai kemanusiaan harus terus berjalan agar tidak ada manusia dari jenis kelamin berbeda menindas sesama manusia, karena adat dan budaya adalah identitas sebuah bangsa. Kesadaran akan ketertindasan perempuan Papua bukan untuk bangkit kembali menindas laki-laki, tapi hanya demi kehidupan yang egaliter di tanah Papua.

Penulis Adalah Mahasiswa Angkatan 2013, Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Papua (Unipa), Manokwari, Papua Barat.
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :