Jarang Ada Perempuan Papua Kutu Buku

Ilustrasi, foto Mahasiswa Papua, (google.doc)

Berawal dari pertemuan dengan seorang sahabat, kami ngopi dan bercerita. Dia adalah sahabat WatikamKwe, seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di ITS ( Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya), dia juga aktif di dunia blogging alias suka mengores di dunia maya. Kini dia salah satu dari sekian banyak mahasiswa Papua yang menempu ilmu di kota metropolitan Surabaya dan salah satunya yang kuliah di ITS, maksudnya itu sangat tidak mudah untuk menempu pendidikan di ITS karena menurutnya jika kuliah di ITS agak sedikit punya modal dan nyali untuk bersaing dengan mahasiswa lainnya, hm emangnya barang apa jadi! hehe.

Kami lepas tanya dan terus baku tanya soal anak Papua terlebih pada perempuan Papua zaman now tentang kutu buku. Kutu buku yang maksudnya dalam bahasa Indonesia;

"Orang yang sangat gemar membaca buku dan selalu melakukan aktivitas tersebut di dalam setiap kesempatan yang dimilikinya" (sehingga kurang memperhatikan pergaulan atau penampilannya)

 Lebih jelas silakan di cari sendiri ya soal kutu buku. :)

Jadi disini WatikamKwe hanya menempelkan dari kesimpulan seluk beluk cerita dari pertemuan itu, pertemuan tak terduga di warkop ala sahabat.

So, teman saya menyatakan tentang ayahnya yang kuliah di malang tahun 90an, mereka kuliah dengan serba kekurangan, mereka tidak menggunakan buku rekening dan ATM (lewat kantor pos namun 3-6 bulan sekali terkadang setahun) tidak ada laptop/komputer, dan HP (hanya ada Tlp. rumah) itupun mereka sudah ada perjanjian telepon beberapa bulan kemudian dan mereka harus menunggu dari pagi hingga malam untuk menerima panggilan. Namun mereka punya keingintahuan lebih besar dan punya nyali petualang tanpa modal, dibanding zaman now banyak cegengnya.

Ah! tapi kita ni bedah zaman boss, benar tidak? Yoi bedah zaman bro, biasanya hafal goyang patola cepat lalu posting-posting di sosial media (sosmed),  supaya nama up tapi celana diri juga jatuh to boss! Ow astaga yaya tra habis pikir. Tapi  coba  patola karena merai perestasi olimpiade atau apa boleh nama up plus membanggakan orpa dan ortu.

Stop Patola, Patola bukan perestasi!

Ah sudah next dulu, zaman now tidak ada perempuan Papua yang kutu buku, dari Se-Jawa dan Bali, tidak ada mahasiswa perempuan Papua yang kritis, hanya ada satu dua tapi mereka itu anak- anak perempuan kiri. Emang anak kiri itu wawasanya lebih luas, emang pantas.

Ini sangat prihatin ya, sudah selama beberapa tahun saya di Jawa tapi hanya satu dua perempun Papua yang aktif berorganisi, kebanyakan hanya laki- laki, apa lagi lihat perempuan Papua kutu buku tu trada sampe padahal disini di kalangan mahasiswa, belum lagi berbaur dengan kalangan umum di Papua. Kapan ya ada sosok-sosok kutu buku cewe Papua?

Zaman semakin maju tapi mental anak-anak Papua zaman now semakin hancur (down), mabuk juaranya, ego makin jadi-jadi, mental instan, tidak ada keingintahuan, padahal yang dibutuhkan ada, tidak seperti cerita teman  tentang ayahnya  diatas. Iyo k trada?

Maju Kita Kawan Bukan Mundur.

Jarang Ada Perempuan Papua Kutu Buku